Historis Singkat
(RI) ~ Dilansir dari Tempo.co seorang aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) dari Jawa Timur lahir sebagai kesatria tanpa pedang yang menusuk ulu hati dari regulasi yang tidak sesuai manusiawi.
Dikutip dari Amnesty Indonesia, pada 7 September 2004. Munir Said Thalib (MST) meninggal dunia diketinggian 40.000 kaki dari atas permukaan yang kala itu sedang dalam perjalanan, Indonesia menuju Amsterdam, karena racun.
Gerak Juang Munir
Aktivis HAM dan pendiri Kontras yang kerap menggerayangi para pelanggar hak asasi yang terjadi di Indonesia pada kala itu, dikarenakan sedang krisis humaniter.
Alasan Munir harus musnah
Tentu, banyak dugaan terkait pembunuhan pejuang reformasi tersebut contohnya seperti : Para aktivis yang konon dikabarkan menghilang tanpa jejak, tindakan kekerasan dan otoriterian dari para penguasa.
Hak yang diperjuangkan
Penghilangan paksa yang kerap terjadi pada kala itu tanpa ada kejelasan hukum dan tindak lanjut yang tegas dari petugas aparatur negara, pasalnya pejuang perempuan yang mempertahankan hak-hak buruh seperti Marsinah saja kini kasusnya belum klimaks.
Spekulasi yang Beredar
Rumor yang beredar di kalangan masyarakat dugaan hilangnya para aktivis tidak luput dari campur tangan “penembakan misterius”. Tentunya munir adalah salah satu tokoh penggerak pengungkapan banyak kasus seperti ini. Oleh karena itu tidak heran Suciwati sebagai istrinya pernah membeberkan terkait banyaknya teror yang dialaminya.
Warisan MST
Namun, dari beragam sudut pandang prihal kematian aktivis munir ini, diharapakan mampu menjadi mercusuar untuk kita semua para kamu muda dalam gelapnya situasi dan kondisi. Teruslah lantang bersuara menyerang istana kerajaan jikalau raja tidak kunjung adil dalam kebijaksanaan.
Sitasi yang sering kita dengar secara esensinya adalah goal point dari seorang aktivis(pejuang) itu bukan mendapatkan berupa tahta dan jabatan, tapi mati dalam medan pertempuran.

