Studi Banding Gerakan Feminisme dan Keterkaitannya dengan Ideologi
(RI) ~ Hak perempuan sering kali dikekang, baik dalam bidang politik, karir, maupun sosial dan budaya. Oleh karena itu, gerakan feminisme menjadi penting untuk mengubah stigma bahwa perempuan hanya layak berada di ranah domestik.
Namun, perlu dipahami bahwa tidak semua gerakan feminisme selaras dengan berbagai ideologi. Beberapa gerakan kiri dianggap sebagai perlawanan perempuan dalam memperoleh hak-haknya. Maka dari itu, penting bagi kita untuk memahami macam-macam feminisme secara garis besar.
Feminisme Liberal
Feminisme liberal adalah gerakan yang menyuarakan hak-hak perempuan secara bebas tanpa terikat pada ideologi tertentu yang membatasi perjuangannya.
“Aku sebenarnya tidak mengetahui arti dari feminis yang sesungguhnya, aku hanya tahu bahwa orang-orang memanggilku seorang feminis setiap kali aku mengekspresikan perasaan yang membedakan saya dari sebuah keset dan pelacur.” – Rebecca West (1913)
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa feminisme adalah ekspresi perempuan dalam memperjuangkan hak-haknya. Gerakan ini menolak stigma dan hinaan yang kerap diarahkan kepada perempuan.
Mary Astell: Pelopor Feminisme di Abad ke-17
Salah satu feminis awal adalah Mary Astell (1666). Pada usia 21 tahun, ia meninggalkan rumah karena mengalami depresi berat. Dengan keberanian dan kecerdasannya, ia menulis buku “A Serious Proposal To The Ladies” pada tahun 1694.
“Wanita harus diajari berpikir untuk dirinya sendiri agar dapat menilai dengan jelas dan masuk akal, dibandingkan hanya mempelajari keterampilan sosial yang anggun.” – Mary Astell
Pernyataan ini mengajak perempuan untuk lebih mengembangkan intelektualitas daripada sekadar fokus pada penampilan dan etika sosial.
Astell juga berpendapat bahwa perempuan miskin tidak seharusnya menjadikan pernikahan sebagai satu-satunya jalan keluar dari kemiskinan. Sebaliknya, mereka harus meningkatkan nilai diri dengan keterampilan dan pendidikan agar dapat mandiri.
Pembagian Gelombang Feminisme
Gerakan pembebasan perempuan di abad ke-19 terbagi menjadi tiga golongan utama:
- Kesetaraan dalam politik
- Kesenjangan sosial dan budaya
- Pendidikan
“Seorang wanita harus membuktikan apa yang ia bisa lakukan sebelum ia melakukannya. Bualan tentang hak-hak wanita, misi wanita, dan fungsi wanita sering kali hanya sebatas kata-kata.” – Elizabeth Barrett Browning (1857)
Ungkapan ini menjadi tamparan bagi feminis yang hanya berbicara tanpa tindakan nyata. Sebuah perjuangan harus dibuktikan dengan aksi, bukan sekadar retorika.
Feminisme Religius
Feminisme religius adalah gerakan yang memperjuangkan hak perempuan tanpa keluar dari nilai-nilai keagamaan. Pandangan ini berbeda dari feminisme liberal yang lebih bebas.
Di negara seperti Indonesia, yang mengharuskan warganya memiliki agama, memahami perbedaan antara feminisme liberal dan religius menjadi sangat penting. Dengan begitu, masyarakat dapat menyaring pemahaman feminisme yang sesuai dengan nilai-nilai kepercayaan mereka.
Kisah Perempuan dalam Sejarah Islam
Salah satu contoh feminisme religius dapat ditemukan dalam sejarah Islam. Kisah-kisah tokoh perempuan dalam Islam sering dijadikan inspirasi dalam gerakan ini.
“Ada seorang perempuan bernama Kaulah Binti Azur yang ikut serta dalam Perang Uhud. Ia maju ke medan pertempuran dan melumpuhkan tiga orang bangsa Romawi. Sementara itu, Nusaibah Binti Ka’ab menjadi perisai Rasulullah SAW ketika beliau hendak diserang dari berbagai sudut oleh musuh.” – NU Online
Kisah ini menunjukkan bahwa perempuan juga dapat berperan aktif dalam perjuangan dan kepemimpinan, sejajar dengan laki-laki. Namun, dalam konteks rumah tangga, Sayidah Aisyah tetap menghormati dan patuh kepada Rasulullah SAW.
Kesimpulan
Tidak semua gerakan feminisme selaras dengan semua ideologi. Feminisme hadir dalam berbagai bentuk, dari liberal hingga religius. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami perbedaannya agar dapat menentukan pendekatan yang sesuai dengan nilai-nilai yang dianut.
Gerakan feminisme sejati bukan hanya sekadar berbicara tentang hak-hak perempuan, tetapi juga membuktikan perjuangan tersebut melalui tindakan nyata. Baik dalam konteks politik, sosial, budaya, maupun agama, perempuan memiliki hak untuk berjuang dan berkembang tanpa harus kehilangan identitas dan nilai-nilai yang diyakini.
