(RI) ~ Sebelum membahas mengenai pendidikan menurut Tan Malaka, saya ingin berbagi pandangan mengenai mindset masyarakat yang sering kita temui dalam kehidupan sosial. Salah satu alibi yang sering membebani kaum intelektual muda yang sedang menempuh pendidikan adalah anggapan bahwa “tujuan pendidikan adalah untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji tinggi.” Pemikiran ini tentu sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, pandangan ini dibantah habis-habisan oleh seorang aktivis terkenal di Indonesia, Tan Malaka, yang dijuluki sebagai “Founding Father of Indonesia yang terlupakan.” Ia pernah menyatakan:
“Tujuan Pendidikan Itu Mempertajam Kecerdasan, Memperkukuh Keinginan, dan Memperhalus Perasaan.” – Tan Malaka
Kutipan ini seharusnya mampu melepaskan tekanan yang sering membebani mahasiswa, terutama akibat ekspektasi masyarakat terhadap pendidikan yang hanya berorientasi pada materi. Sayangnya, pernyataan ini jarang diketahui oleh masyarakat luas, sehingga mereka terus menilai pendidikan hanya dari segi ekonomi semata.
Kisah Nyata: Stigma Masyarakat Terhadap Pendidikan
Contoh nyata dapat kita lihat dari kisah seorang pemuda berinisial “R” yang berasal dari perkampungan. Ia telah menyelesaikan pendidikan tinggi di bidang ekonomi dan meraih predikat cumlaude. Namun, setelah lulus, ia bekerja sebagai guru honorer dengan gaji yang tidak seberapa.
Beberapa tetangga kemudian mencemoohnya:
- “Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau akhirnya cuma jadi guru honorer?”
- “Udah dibiayain mahal-mahal, eh malah gajinya kecil!”
Kisah ini mencerminkan bagaimana masyarakat sering mengukur keberhasilan pendidikan dari besaran gaji yang diterima, bukan dari manfaat ilmu yang diperoleh.

